Kesalahan Umum di Dunia Kerja dan Cara Menghindarinya

Seorang wanita karier terlihat stres dan frustrasi di depan laptop karena karier mandek meski sudah kerja keras.

Kerja sudah tahunan, tapi posisi segitu-gitu saja? Gajian cuma numpang lewat, promosi melayang ke orang baru?

Jangan buru-buru menyalahkan bos yang “pilih kasih” atau nasib yang buruk. Coba ngaca dulu.

Banyak profesional—mungkin termasuk Anda—secara tidak sadar melakukan “bunuh diri karier” pelan-pelan. Anda merasa sudah bekerja benar, padahal Anda sedang menanam ranjau buat diri sendiri.

Berikut 7 kesalahan fatal yang bikin karier jalan di tempat (stagnan) dan cara cerdas menghindarinya biar karier Anda melesat!

1. “Sok Tahu” (Gengsi Bertanya, Sesat Selamanya)

Ini penyakit karyawan baru atau senior yang gengsian. Takut dibilang bodoh kalau bertanya, akhirnya kerja pakai ilmu “tebak-tebakan”.

  • Akibatnya: Hasil kerja salah total. Tim harus lembur buat beresin kotoran yang Anda buat. Anda dicap tidak kompeten.

  • Solusinya: Konfirmasi Ulang. Lebih baik terlihat “bodoh” 5 menit buat nanya, daripada beneran terlihat bodoh karena hasil kerja hancur. Ulangi instruksi bos: “Jadi maksud Bapak A, B, C ya?”

2. Mental Dinosaurus (Anti Perubahan)

Dunia kerja sekarang itu cepat. Ada AI, ada software baru, ada metode agile. Kalau kalimat andalan Anda adalah: “Dulu biasanya nggak gini kok,” atau “Ribet ah belajar tools baru,” selamat! Anda sedang menuju kepunahan.

  • Akibatnya: Anda dianggap obsolete (usang). Perusahaan butuh orang yang adaptif, bukan fosil.

  • Solusinya: Jangan Kudet. Luangkan waktu 30 menit seminggu buat belajar skill baru. Jadilah orang pertama yang bilang “Ayo kita coba sistem baru ini”, bukan yang paling keras menolak.

3. “Kompor” Kantor (Raja Drama)

Membangun relasi itu beda sama nge-gosip. Kalau kerjaan Anda tiap jam istirahat cuma ngomongin kejelekan bos atau bikin kubu-kubuan, karier Anda tamat.

  • Akibatnya: Manajemen nggak akan pernah mempromosikan biang kerok, sepintar apa pun Anda. Anda dikenal sebagai sumber masalah, bukan solusi.

  • Solusinya: Tutup Mulut, Buka Telinga. Jadilah Swiss: Netral. Kalau ada gosip, senyum saja lalu balik kerja. Fokus pada kinerja, bukan drama.

4. Mental Pengecut (Lempar Tanggung Jawab)

Ada masalah? Langsung tunjuk jari: “Ini salah si IT!”, “Kliennya yang telat!”.

  • Akibatnya: Ini ciri orang yang tidak dewasa. Atasan paling benci anak buah yang defensif dan sibuk cari kambing hitam.

  • Solusinya: Extreme Ownership. Jadilah ksatria. Akui bagian salah Anda, sekecil apa pun itu, lalu tawarkan solusi. Bos lebih hormat sama orang yang bilang “Maaf ini luput dari saya, solusinya saya akan…” daripada si tukang ngeles.

5. Jago Teknis tapi “Bebal” (Nol Soft Skill)

Coding jago, desain dewa, laporan rapi. Tapi kalau diajak ngomong nyolot, email kasar, dan nggak bisa dikritik?

  • Akibatnya: Anda akan mentok di level staf seumur hidup. Untuk naik jabatan, butuh Leadership dan Empati, bukan cuma jago teknis.

  • Solusinya: Asah EQ. Kerja itu sama manusia, bukan cuma sama layar komputer. Belajar cara ngomong enak, cara nulis email sopan, dan cara terima kritik tanpa baper.

6. Sok Kuat (Kerja 24/7 Sampai Tumbang)

Bangga balas email jam 2 pagi? Bangga nggak pernah cuti? Itu bukan dedikasi, itu manajemen waktu yang buruk.

  • Akibatnya: Burnout. Otak lelah, hasil kerja jadi sampah, emosi labil. Perusahaan rugi punya karyawan yang “sakit-sakitan” mentalnya.

  • Solusinya: Kerja Cerdas, Bukan Kerja Rodi. Matikan notifikasi pas libur. Kalau piring Anda kepenuhan, belajar bilang “Tidak” atau negosiasi deadline secara profesional. Jaga kewarasan Anda.

7. Karier “Mengalir Kayak Air” (Pasrah)

Berharap bos punya telepati dan tiba-tiba kasih promosi karena Anda rajin? Mimpi. Air itu mengalirnya ke bawah (selokan), bukan ke atas.

  • Akibatnya: Anda terjebak di posisi yang sama 5 tahun, sementara anak baru sudah jadi manajer Anda.

  • Solusinya: Anda CEO Karier Anda Sendiri. Jangan pasrah. Todong bos pas evaluasi: “Saya mau ke posisi X, apa syaratnya?”. Jemput bola, jangan nunggu durian runtuh.

Kesimpulan

Karier yang sukses itu didesain, bukan kebetulan.

Berhenti merasa jadi korban. Cek 7 poin di atas. Kalau Anda masih melakukan salah satunya, setop sekarang juga. Ubah kebiasaan, ambil kendali, dan lihat karier Anda melesat!

Post Lainnya